Wednesday, March 16, 2011

kalam Ibnu Athoillah


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

seorang sahabat menunjukkan kpd sy kata2 Imam Ibnu Athoillah dalam sebuah novel bertajuk Ketika Cinta Bertasbih.saya tertarik dgn kata2 beliau dalam novel tersebut dan menyalinnya untuk tatapan semua.semoga bermanfaat!

" tidak ada yang dapat mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati,atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana!"

~rasa cinta kepada Allah yang sangat luar biasa yang menggetarkan hatimu.sehingga ketika yang ada di hatimu adalah Allah, yang lain dengan sendirinya menjadi kecil dan terusir.

~rasa rindu kepada Allah yang amat dahsyat sampai hatimu merasa merana.Jika kau merasa merana kerana rindu kepada Allah,kau tidak mungkin merana kerana rindu kepada yang lain. Jika kau sudah sibuk memikirkan Allah, kau tidak akan sibuk memikirkan yang lain.

kerana hatimu miskin cinta & rindu kepada Allah,jadi kau dijajah oleh cinta & rindu kepada yang lain.



Mencintai makhluk itu sangat berpeluang menemui kehilangan..Kebersamaan dengan makhluk juga berpeluang mengalami perpisahan.Hanya cinta kepada Allah yang tidak mengalami perpisahan.Jika kau mencintai seseorang ada 2 kemungkinan: diterima atau ditolak. Jika ditolak, pasti sakit rasanya.Namun, jika kau mencintai Allah, engkau tidak akan pernah merasa kehilangan.Tidak akan ada yang merebut Allah yang kau cintai itu dari hatimu.Tidak akan ada yang merampas Allah.Jika kau bermesraan dengan Allah, hidup bersama Allah, kau tidak akan pernah berpisah denganNya..Allah akan setia mencintaimu.Allah tidak akan berpisah darimu..kecuali kamu sendiri yang berpisah dariNya. Cinta yang paling membahagiakan & menyembuhkan adalah cinta kepada Allah Azza Wajalla..

~Jika engkau ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah,

maka lihatlah dulu kedudukan Allah di dalam hatimu~


wallahu'alam

Monday, March 7, 2011

Sayyidina Khabab b Al-Arats RA

بسم الله الرحمن الرحيم

Mari bersama kita telusuri kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW unt dijadikan teladan.Betapa hebat ujian yang diberikan kepada generasi sahabat Nabi SAW demi mempertahankan iman.Andai kita diuji begini, mampukah untuk kita buktikan keteguhan iman?semoga kita bisa memiliki hati yang teguh dalam mempertahankan iman kepada Allah SWT terutama dalam zaman yang kian mencabar ini.

Sayyidina Khabab adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang rela mati untuk memperjuangkan keislamannya. Tubuhnya penuh dengan keberkahan karena telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Sayyidina Khabab adalah hamba sahaya milik seorang perempuan. Beliau orang kelima atau keenam yang memeluk islam ketika islam mulai berkembang.

Saat tuannya mengetahui ia sering mengunjungi Nabi saw, kepalanya diselar dengan besi panas yang merah menyala. Beliau pernah dipaksa mengenakan baju besi. Lalu, dibaringkan di atas pasir yang panas sehinggakulitnya mengelupas akibat terkena sinar matahari yang terik. Subhanallah, penderitaan yang dialami Khabab bukanlah hal yang ringan.

Ketika sayyidina Umar ra menjadi khalifah, beliau pernah bertanya kepada Khabab mengenai penderitaannya pada awal memeluk islam. Sebagai jawabannya, beliau memperlihatkan bekas-bekas luka di belakang badannya. Sayyidina Umar ra berkata, “Saya belum pernah melihat bagian belakang badan yang sedemikian rupa.” Bukan hanya itu, Khabab mengatakan bahwa dia pernah diseret di atas timbunan bara api sehingga lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan api tersebut.

Ketika islam telah menyebar di segala penjuru, beliau sering duduk manis sambil berkata, “Tampaknya Allah sedang memberi ganjaran atas segala penderitaan yang telah kami alami. Mungkin di akhirat nanti, tidak ada ganjaran yang akan kami terima.” Subhanallah… (aku tak bisa berkata-kata lagi kawan)

Beliau pernah bercerita,

“Suatu hari, Rasul saw menjadi imam dalam shalat kami. Beliau mengerjakan shalat dengan begitu panjang. Setelah kami bertanya tentang rakaat yang panjang itu, rasul menjawab,’ini adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan.

Saya telah megajukan tiga permohonan kepada Allah. Dua diantaranya dikabulkan, sedangkan satu permohonan sya tidak dikabulkan. Saya berdoa, ‘Ya Allah, janganlah umatku mati dalam keadaan lapar.’ Permohonan ini dikabulkan. ‘Ya allah, janganlah umatku dibinasakan oleh musuh’. Yang ini pun dikabulkannya. ‘Ya allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan diantara umatku’. Akan tetapi, permohonan saya yang terakhir ini tidak dikabulkan-Nya.”

Sayyidina khabab meninggal dunia pada usia 37 tahun. Beliau adalah sahabat yang pertama kali dikebumikan si Kufah. Pada suatu hari, sayyidina Ali ra melewati makamnya. Beliau berdoa, “Ya Allah, rahnatilah Khabab. Dengan semangatnya, dia telah memeluk islam. Dengan ikhlas, dia telah menghabiskan waktunya untuk berhijrah, berjihad dan mengelami segala penderitaan.”

Subhanallah kawan, apa yang telah kita lakukan untuk islam??

(Sumber: buku “Ketika Hati Berbisik Kenapa Aku Diuji”)

diambil dari:http://misskecil.wordpress.com/2010/05/13/pedihnya-kisah-sayyidina-khabab/

semoga Allah memberikan kita keteguhan iman seperti mana para Nabi dan Sahabat dalam mempertahankan keimanan kpd Allah SWT, walau dari sudut dan inci mana sekalipun kita diuji.ameen.

يا مقلب القلوب.. ثبت قلوبنا على دينك وعلى طاعتك وعلى طريق دعوتك


wallahu'alam..

Wednesday, March 2, 2011

Sa'ad bin Abi Waqqas

Malam telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa’ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam keadaan yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang. Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa’ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang lelaki, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa'ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa’ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh.

Seperti biasa, di waktu pagi, Sa’ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa’ad lebih banyak berdiam diri. Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa’ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil hingga dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa’ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa’ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala.

Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar : dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsh. Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa’ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa’ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami ujian yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya : "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?" Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata : "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut". "Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad.

Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikkap keras dengan keyakinannya yang baru ini. Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinanya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian. Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya,agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah.

Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majlis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Wadqash: “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15)

Demikianlah, keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa’ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya.

Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata : "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kesatriaannya.

1)Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah.

2) Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Bersabda Nabi Saw, dalam perang Uhud :”Panahlah hai Sa’ad ! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu”.

Sa’ad bin Abi Waqqash, hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran. Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ialah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam keadaan sakit Sa’ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa ini telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para Syuhada. (BQ)


sumber: naqshbandiyun.blogspot.com/.../kisah-sahabat-nabi-saad-bin-abi-waqqash.html

Saturday, January 1, 2011

Kepimpinan Ulama'

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Sudah lama saya terfikir untuk mencoretkan sesuatu tentang kepimpinan ulama'. kita sebagai 'insan biasa' yang kurang ilmu ini, sangat2 memerlukan ulama' sebagai pembimbing dan pemimpin menuju ke jalan yang diredhai Allah SWT. apatah lagi dalam soal pentadbiran.tentunya kepimpinan ulama' adalah terbaik dlm meneraju pentadbiran disemua peringkat.

sabda Nabi SAW:
"ulama' pewaris nabi-nabi" (HR Tirmizi)

"kelebihan orang 'alim ke atas 'abid seperti kelebihan bulan purnama di atas bintang2" (HR Tirmizi)

dalam zaman yang serba moden ini, tidak dapat dinafikan, keberadaan ulama' mula dipandang enteng oleh sesetengah masyarakat.ramai yang lebih menyanjung golongan profesional berbanding ulama'.mereka tidak meyedari betapa pentingnya golongan ulama'.saya tidak menafikan keperluan masyarakat kita sekarang yang memerlukan kepada profesional yang ulama' dan ulama' yang profesional.yang penting, fikrah Islam yang jelas perlulah disebarkan kepada masyarakat agar dapat memahami Islam secara syumul dengan kefahaman yang betul.

justeru, ambillah peluang berada di bumi anbiya' ini untuk mendekati golongan2 yang mendalami secara khusus pengajian dalam bidang agama,yang tsiqah ilmu dan akhlaknya,yang ikhlas,dan mementingkan urusan akhirat berbanding dunianya .kerena meraka inilah menjadi harapan yang besar untuk agama,bangsa dan negara untuk memandu ummah ke jalan yang lurus, dan diredhai Allah SWT.

dibawah ini, saya copy paste kan artikel dari laman web ILMAM tentang kepentingan kepimpinan ulama' unt bacaan semua. smoga bermanfaat..wallahu'alam.
-----------------------------------------------------
Ulama' Mengikut Perspektif Islam

Takrif ulama' dari sudut bahasa Arab ialah bermaksud orang yang mengetahui sesuatu. Ianya berasal daripada kalimah aliim dan ulama’ adalah perkataan jama’ (gandaan yang menunjukkan bilangan banyak) kepada aliim . Manakala dari sudut syarak, pelbagai takrifan telah diberikan antaranya ialah :

1. Takrif Syeikh Abul Aziz Badri dimana beliau berkata : “Ulama’ adalah sebagai pewaris nabi iaitu yang menyambung kembali perjuangan dan dakwah para nabi. Ulama’ tidak takut kepada pemerintah yang zalim dan pihak yang kejam kerana kepatuhan mereka hanya kepada Allah SWT”.

2. Imam Al-Hassan Al-Basri berkata : “Ulama’ ialah orang yang takut kepada Allah dan cenderung melakukan apa yang Allah suka dan mengharamkan apa yang diharamkan dan memelihara wasiatNya”

3. Imam Malik berkata : “Ulama’ bukanlah seorang yang banyak menghafaz riwayat hadis bahkan mempunyai ilmu yang merupakan nur (cahaya) yang dinyalakan Allah di dalam hati”

4. Dr. Harun Din mengatakan bahawa ianya ialah kalimah jama’ daripada perkataan alim dengan bermaksud seseorang yang mendalami pengetahuan agama. Di dalam bahasa Arab terdapat banyak istilah lain selain istilah ulama’ yang digunakan bagi merujuk kepada bidang masing-masing sebagai contoh khabir, muhtarifun, fanniyyun yang merujuk kepada pakar selain bidang agama.

Di Dalam Al-Quran Al-Karim Allah s.w.t telah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Bermaksud : “Hanyasanya orang yang paling takut kepada Allah adalah ulama” (Surah Fathir, ayat 28)

Menurut al-Imam al-Syaukani dalam mentafsirkan ayat ini beliau berkata, “ Ulama adalah mereka yang takut pada Allah taala,dan mengetahui bahawa Allah taala berkuasa atas sesuatu”. Al-Imam al-Qurtubi menyebut, “Ulama adalah seorang yang takut akan kekuasaan Allah taala dan yakin bahawa Allah taala akan membalas segala maksiat yang dilakukan.

Menurut al-Syahid Syed Qutb pula : “ Ulama adalah orang yang mengetahui tentang sifat Allah taala dan kebesarannya. Sesiapa yang bertambah ilmunya maka akan bertambah takutnya kepada Allah taala”. Berdasarkan kepada tafsiran tersebut nyatalah mereka yang tidak takutkan hukum Allah s.w.t dan bersungguh-sungguh melaksakan perintah Allah bukanlah mereka yang layak digelar ulama pada hakikatnya walaupun mahir dalam persoalan halal dan haram. Oleh itu, ulama yang takut kepada Allah iailah mereka yang mengmalkan ilmunya dan menyeru manusia supaya turut sama takut dan patuh kepada perintah Allah.

SYARAT-SYARAT DAN CIRI-CIRI BERGELAR ULAMA’

Institusi ulama’ merupakan institusi yang tinggi di dalam Islam. Allah s.w.t telah berbangga dengan para ulama dan telah mengangkat darjat mereka di kedudukan yang tinggi sebagaimana firman Allah :

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Bermaksud: “ Allah s.w.t mengangkat darjat orang yang beriman dan mereka yang diberikan ilmu dengan beberapa darjat”. (Surah Mujadalah, ayat 11)

Oleh yang demikian itu, ulama perlulah memiliki cirri-ciri dan syarat yang ketat sesuai dengan kedudukan mereka di dalam Islam. Syarat-syarat seorang ulama ialah :

1. Memiliki disiplin ilmu Islam yang menyeluruh. Syarat ini penting untuk membezakan mereka yang hanya memiliki pengetahuan agama dan mereka yang betul-betul menguasainya supaya dapat diletakkan seseorang itu di kedudukannya.. Antara ilmu-ilmu yang perlu dikuasai ialah :

a. Bahasa Arab dan cabang-cabangnya seperti Nahu, Saraf.
b. Al-Quran dan Ulum al-Quran
c. Ilmu Feqah Islam dan Usul Feqah
d. Ilmu Hadis dan Ulum al-Hadis
e. Ilmu Mantiq
f. Ilmu Tarikh al-Islami dan Sirah Nabawiyah
g. Ilmu Aqidah Islamiyah (Ahlussunnah Wal Jamaah)
h. Ilmu Tasawwuf dan akhlak.
i. Usul dakwah

Ulama yang dimaksudkan juga adalah mereka yang menguasai ilmu agama dengan cara mempelajarinya dengan para ulama secara berdepan atau musyafahah , di dalam segenap lapisan ilmu islam sama ada ilmu yang berkaitan usul ataupun furuk. Bukan hanya sekadar membacanya dengan tanpa berguru. Ini adalah bagi memastikan ianya diambil daripada acuan yang sebenar bukan dengan hawa nafsu dan salah faham. Bagi zaman sekarang, memadai untuk ulama untuk memiliki pengkhususan dalam salah satu bidang yang disebut atau lebih disamping menjadikan selainnya sebagai thaqofah yang turut dipelajari.

2. Mempunyai pengetahuan umum dan pelbagai mengenai Islam dan isu sekitarnya. Antara perkara-perkara yang perlu dihadam dengan baik ialah :

a. Buku-buku karangan ulama harakah al-Islamiyah seperti al-Syeikh Dr Yusuf al-Qaradawi, Fathi Yakan, al-Syeikh Said Hawwa dan lain-lain.

b. Feqah Haraki seperti Feqah Waqi’,Feqah Muwazanah, Feqah Awlawiyyat, Feqah Taghyir.

c. Selok belok serangan pemikiran moden seperti Freemason, Kristianisasi, ajaran anti hadis dan lain-lain

d. Politik dan perundangan negara serta hal ehwal politik semasa.

Demikian juga ulama perlu memiliki ciri-ciri dan keperibadian yang unggul sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam sesuai dengan kedudukan ulama’ sebagai pewaris Nabi Muhammad s.a.w. Antara sifat yang perlu dimiliki ialah :

1. Cinta kepada Allah s.w.t
2. Cinta dan benci kepada makhluk hanya kerana Allah.
3. Berjiwa pendidik (murabbi)
4. Mendapat tarbiyah yang baik.
5. Sanggup dipimpin dan memimpin.
6. Berjiwa pejuang dan sanggup berjihad dengan segala apa yang dimiliki.
7. Berjiwa besar dan tidak takut dikritik oleh manusia.
8. Bijak berhadapan dengan situasi semasa.
9. Hidup dalam masyarakat (mua’yasyah al-mujtama’)

HUKUM ULAMA’ MENJADI PEMIMPIN DAN DALIL-DALILNYA

Setelah melihat kepada takrif, ciri-ciri serta sejarah seperti yang tercatat sebelum ini dapatlah ditegaskan secara umumnya bahawa ulama wajib memimpin. Oleh kerana sesebuah gerakan Islam ingin membawa Islam itu sendiri maka golongan yang paling berkemampuan untuk menerangkan kebaikan Islam kepada masyarakat secara terperinci dan keburukan sistem selain Islam adalah para ulama.

Terdapat dalil yang cukup banyak membicarakan berkenaan perkara ini. Bagi yang memahaminya dengan baik tentu akan mencukupi baginya walaupun satu dalil sahaja. Namun seseorang yang ingin mengingkarinya, maka jika kita datangkan dengan seribu satu dalil sekalipun mereka tetap akan mengingkari akan perkara ini.

Jika kita memerhatikan dengan teliti di dalam al-Quran dan al-Sunnah maka kita akan mendapati bahawa para ulama sebenarnya adalah merupakan mereka yang paling layak untuk memegang tampuk kepimpinan khususnya dalam gerakan Islam yang ingin melaksanakan amar makruf nahi mungkar.

Kita akan membincangkan secara ringkas apakah dalil yang menunjukkan bahawa perlu para ulama memimpin. Antara dalil-dalil yang menunjukkan perkara ini:

1.PARA NABI MERUPAKAN PARA PEMIMPIN UMAT

Jika kita mengatakan bahawa para nabi adalah pemimpin umat manusia kepada kebenaran. Maka kita juga sepatutnya mengatakan bahawa para ulama juga mengambil tugas para nabi terdahulu. Ini kerana para ulama adalah pewaris para nabi.

Allah s.w.t memilih hambaNya yang bertaqwa bagi melaksanakan tugasan dakwah dan bagi memimpin umat manusia. Firman Allah s.w.t di dalam surah al-Baqarah ayat 30 yang bermaksud: "dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu Dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang Yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami sentiasa bertasbih Dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa Yang kamu tidak mengetahuinya".

Perkara pertama yang disebutkan oleh Allah s.w.t apabila Nabi Adam alaihi a.s diangkat menjadi Khalifah Allah bukanlah kekuasaan dan kekuatan. Namun perkara pertama yang diajarkan kepada Nabi Allah Adam alaihi a.s ialah ilmu. Ini seperti firman Allah taala di dalam surah al-Baqarah ayat 31 yang bermaksud: "dan ia telah mengajarkan Nabi Adam, akan Segala nama benda-benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu ia berfirman: "Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan Yang benar".

Ini menjadi dalil bahawa ilmu adalah perkara pokok yang utama untuk di dahulukan bilamana memegang sesuatu kepimpinan dalam apa jua bentuk.

Allah taala juga menyebutkan kepada Nabi Allah Daud a.s di dalam surah al-Shaad ayat 26 yang bermaksud: "Wahai Daud, Sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka jalankanlah hukum di antara manusia Dengan (Hukum syariat) Yang benar (yang diwahyukan kepadamu); dan janganlah Engkau menurut hawa nafsu, kerana Yang demikian itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang Yang sesat dari jalan Allah, akan beroleh azab Yang berat pada hari hitungan amal, disebabkan mereka melupakan (jalan Allah) itu.

Ayat ini juga menjadi dalil bahawa para Nabi hakikatnya diutuskan untuk menjalankan Syariat Allah di muka bumi ini. Maka para ulama adalah penerus kepada perjuangan para Nabi terdahulu. Sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam :

إنما العلماء ورثة الأنبياء

Maksudnya : “ Sesungguhnya Para ulama itu adalah merupakan pewaris para Nabi”

Al-Allamah al-Syeikh Ali Surur al-Zankaluni rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya al-Dakwah wa al-Du’ah dengan mengatakan bahawa di antara perkara yang menjadi kekeliruan dan kekacauan di dalam pemikiran masyarakat adalah bilamana seseorang memisahkan politik daripada agama. Malah lebih teruk dengan mengatakan bahawa agama suku dan politik suku. Di antara sebab mengapa umat Islam sekarang jauh ketinggalan di belakang adalah kerana terdapatnya golongan sebegini.

Al-Allamah al-Syeikh Abu Hassan Ali al-Hasani al-Nadwi rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Maza Khasirul al-A’lam Binhithot al-Muslimin (kenapakah ruginya ala mini dengan mundurnya umat Islam) dengan mengatakan bahawa jihad tetap akan berterusan sehingga ke akhir zaman. Pada zaman dahulu jihad dilaksanakan dengan menggunakan mata pedang. Namun pada masa sekarang, jihad adalah dengan menggunakan pemikiran. Maka sepatutnya bagi umat Islam untuk memerangi fahaman-fahaman yang bertentangan dengan Islam dengan bentuk jihad yang ada pada masa kini.

Persoalannya siapakah yang akan menerangkan tentang kesalah fahaman di dalam pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam ini jika bukan ulama yang turun padang memberikan penjelasan??

Memberikan penjelasan berkenaan bahaya ajaran selain Islam adalah wajib. Maka ini secara langsung menjadikan keterlibatan di dalam perjuangan Islam juga akan menjadi wajib dengan sebab kedua-duanya punya kesinambungan yang jitu. Para ulama Usul Fiqh menyebutkan :

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Maksudnya : “Sesuatu yang wajib itu tidak akan sempurna melainkan dengan sesuatu yang lain maka perkara yang digunakan untuk menyempurnakannya juga menjadi wajib.”

SYUBHAT

Terdapat sebahagian orang mengatakan bahawa jika kita mengatakan bahawa ulama perlu untuk memimpin maka ini akan menjadikan Negara tersebut dipimpin oleh orang-orang yang digelar “ Rijal al-Din” atau di dalam bahasa kita disebutkan orang-orang agama. Negara seperti ini samalah seperti bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh oleh golongan Kristian bagi menggerakkan sistem Gereja di barat satu ketika dahulu.

JAWAPANBold
Al-Allamah Dr Yusuf al-Qaradhawi hafizahullah menyebutkan di dalam kitabnya al-Din Wa al-Siasah pada mukasurat 162 mengatakan bahawa jika seseorang itu menyamakan di antara sistem yang Islam bawa seperti sistem yang dibawa oleh golongan paderi maka ini jelas amat bertentangan dengan kebenaran malah jauh daripada hakikat sebenar.

Golongan Kristian membahagikan agama dan pemerintahan kepada dua bahagian. Malah menyerahkan pemerintahan kepada manusia lain untuk melakukan sewenang-wenangnya manakala institusi agama diserahkan kepada pihak paderi bagi menguruskannya.Gambaran sebegini langsung tidak wujud di dalam Islam.

Al-Allamah Muhammad al-Ghazali rahimahullah juga memberikan komentar yang sangat baik di dalam menjawab permasalahan ini dengan mengatakan bahawa : Istilah Rijal al-Din sebenarnya satu perkara yang tidak tepat untuk digunakan di dalam Islam. Ini kerana umat Islam hakikatnya seluruh jiwa raga mereka adalah rijal kepada agama mereka tanpa ada pengecualian.

2.TUJUAN ILMU ADALAH UNTUK MEMBERIKAN PERINGATAN DAN PENGAJARAN

Firman Allah taala di dalam surah al-Taubah ayat 122 yang bermaksud: "dan tidaklah (betul dan elok) orang-orang Yang beriman keluar semuanya (pergi berperang); oleh itu, hendaklah keluar sebahagian sahaja dari tiap-tiap puak di antara mereka, supaya orang-orang (yang tinggal) itu mempelajari secara mendalam ilmu Yang dituntut di Dalam ugama, dan supaya mereka dapat mengajar kaumnya (yang keluar berjuang) apabila orang-orang itu kembali kepada mereka; Mudah-mudahan mereka dapat berjaga-jaga (dari melakukan larangan Allah).

Setiap zaman punya cara untuk memberikan peringatan kepada umat masing-masing. Di antara cara untuk memberikan peringatan kepada umat pada zaman sekarang adalah dengan memegang tampuk kepimpinan di dalam masyarakat khususnya dalam bentuk jemaah Islam. Maka ini memberi makna, para ulama perlu untuk meletakkan diri mereka sebagai pemimpin umat bagi merealisasikan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Seseorang yang bijak berinteraksi dengan zaman akan memandang bahawa pada zaman sekarang, jika ulama tidak memegang tampuk kepimpinan maka ahli-ahli jemaah secara khususnya dan masyarakat secara umumnya akan berada dalam kejahilan dan jauh hanyut lebih-lebih lagi jika mereka dipimpin oleh orang-orang yang tidak mengatahui soal hukum-hukum Islam.

SYUBHAT

Ada sebahagian orang mengatakan bahawa para ulama tidak perlu untuk memimpin . Ini kerana jika melihat kepada zaman dahulu, para ulama cuma menjadi penasihat kepada para khalifah dan sultan (ahlul halli wal ‘aqd) maka tidak perlu untuk para ulama bergiat cergas menjadi pemimpin.

JAWAPAN

Jawapan bagi orang yang mengatakan sedemikian ialah inilah peri pentingnya seseorang itu bermuamalat dengan zaman dan isu semasa yang berlaku di sekeliling.

Jika seseorang itu membandingkan penglibatan dan gerak kerja ulama dahulu dengan sekarang maka sebenarnya ianya merupakan satu perbandingan yang tidak tepat. Ini kerana , para ulama dahulu mereka memberi nasihat kepada orang yang memahami akan kedudukan sebenar ulama tersebut. Berbeza dengan zaman sekarang yang mana jika ulama hanya melaksanakan sedemikian maka masyarakat akan tetap meletakkan ulama di tempat yang bawah dan seolah-olah kalam dan nasihat mereka hanya boleh dipakai di tempat-tempat tertentu seperti masjid dan lain-lain tempat bukannya sebagai penggubal dasar kepada parti atau negara.

Maka keadaan seperti ini akan menjadikan kita seperti agama Kristian yang membezakan antara agama dan pemerintahan. Ini jelas amat bertentangan dengan prinsip Islam yang sebenar.

3.ULAMA MENGETAHUI TENTANG HAK ALLAH TAALA

Di antara dalil mengapa para ulama perlu melibatkan diri di dalam kepimpinan pada zaman sekarang adalah kerana para ulama lebih memahami dan mengetahui tentang bagaimana hak Allah akan tertunai di muka bumi Allah taala ini. Di antara peranan ulama juga adalah untuk meninggikan kalimah Allah taala di muka bumi ini.

Firman Allah taala di dalam surah Ali Imran ayat 18 yang bermaksud: "Allah menerangkan (kepada sekalian makhlukNya Dengan dalil-dalil dan bukti), bahawasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang sentiasa mentadbirkan (seluruh alam) Dengan keadilan, dan malaikat-malaikat serta orang-orang Yang berilmu (mengakui dan menegaskan juga Yang demikian); tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini menjadi dalil yang jelas bahawa para ulama adalah di antara golongan yang diberikan oleh Allah taala kemampuan untuk memahami dan memberi faham kepada masyarakat tentang peri penting mengembalikan hak pemerintahan mengikut hukum Allah taala.

4. SEJARAH MEMBUKTIKAN BAHAWA ULAMA MAMPU MEMIMPIN

Antara dalil yang menyokong untuk kita meletakkan para ulama sebagai pemimpin adalah berdasarkan sejarah penglibatan ulama di dalam bidang kepimpinan sejak zaman dahulu lagi sehingga sekarang. Para ulama sudah lama berkecimpung di dalam bidang kepimpinan dan perjuangan agama Allah taala ini. Namun ramai yang terlepas pandang dan tetap menggunakan hujah bahawa ulama tidak boleh menjadi pemimpin, cukup dengan hanya menjadi penasihat.

Di antara ulama yang menjadi pemimpin ialah :

ZAMAN SAHABAT

1. Saidina Abu Bakr al-Siddiq radhiyallahu anhu
2. Saidina Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu
3. Saidina Uthman bin Affan radhiyallahu anhu
4. Saidina Ali bin Abi Talib radhiyallahu anhu
5. Saidina Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu anhu
6. Saidina Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu
7. Saidina Abu Hurairah radhiyallahu anhu
8. Saidina Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu anhu dan banyak lagi para sahabat yang tidak mampu untuk kita sebutkan di sini kerana terlalu ramai di antara mereka yang terlibat di dalam kepimpinan Islam.

ZAMAN TABI’EN DAN SELEPASNYA

1. Saidina Umar bin Abdul Aziz rahimahullah
2. Saidina Harun al-Rasyid rahimahullah
3. Saidina Nuruddin al-Zinki rahimahullah
4. Saidina Salahuddin al-Ayyubi rahimahullah
5. Saidina Sultan Abdul Hamid , Sultan terakhir Khilafah Uthmaniyah
6. Saidina Sultan Alauddin Riayat Shah, Sultan Kerajaan Islam Melaka.
7. Saidina al-Imam Mutawalli Sya’rawi rahimahullah

ULAMA YANG MEMIMPIN GERAKAN ISLAM SEDUNIA

1. Imam Hassan al-Banna dan para Mursyidul Am Ikhwanul Muslimin yang lain.
2. Abul ‘Aala Al-Maududi di India.
3. Syeikh Abdul Qader al-Jazair di Algeria
4. Syeikh Umar Mukhtar di Libya
5. Syeikh Ahmad al-Mahdi di Sudan
6. Tuan Guru Nik Abdul Aziz di Kelantan.

Ini adalah sebahagian kecil yang dapat untuk kita sebutkan disini. Hakikatnya masih terdapat ramai para ulama yang menjadi pemimpin masyarakat. Samaada dengan menjadi Khalifah, Sultan, Menteri , Mufti , Qadhi dan lain-lain jawatan penting.

Para ulama memegang tampuk kepimpinan bukanlah untuk merebut kuasa dan gilakan kuasa tetapi mereka memegangnya hanya kerana amanah yang dirasakan sangat penting untuk dijaga oleh seseorang yang mampu.

Hakikatnya golongan ulama telah dipuji oleh Allah taala di dalam kalamNya yang Maha Qadim ayat 28 surah Faathir yang bermaksud: "dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang Yang melata serta binatang-binatang ternak, ada Yang berlainan jenis dan warnanya? sebenarnya Yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang Yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.

Semoga dengan catatan ini kita dapat memahami mengapa ulama wajib memimpin sesebuah gerakan Islam ataupun negara itu sendiri seumpama Malaysia dan diharapkan segala keraguan berkaitan dengannya terungkai. Apa yang baik itu daripada Allah dan yang buruk daripada kesilapan kami sebagai makhluk yang hina. Wallahu A’alam.


Tuesday, November 23, 2010

Fahami Risalah Islam

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah,Tuhan sekalian alam.selawat dan salam ke atas junjungan besar, Nabi Muhammad SAW,ahli beit Baginda, dan para sahabat seluruhnya.

Hari pengundian hanya tinggal beberapa hari shj lagi.Para penykong nampak bertungkus-lumus bagi memastikan kemenangan calon pilihan masing-masing.

Artikel saya kali ini mungkin berbeza dengan artikel-artikel kempen pilihanraya yang lain.Mari kita perhatikan masalah yang timbul secara dasar dan perbaiki masalah tersebut dengan kefahaman yang jelas berdasarkan ilmu & dalil-dalil aqli dan naqli.Saya yakin, kebenaran itu akan terzahir.Kebenaran itu tetap ada disisiNya,dan tentunya berdasarkan bukti yang jelas nyata pada risalah kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Calon-calon yang bertanding tidak dinafikan kehebatan masing-masing.Cuma yang berbeza, seorang adalah calon yang berpengalaman dalam tampuk pemerintahan PCM, dan seorang lagi orang yang belum berpeluang untuk berada dalam barisan exco tahun-tahun sebelumnya.Ada yang mempertikaikan Azizi kerana dia membawa corak pemikiran yang sama dengan exco-exco sebelumnya.Maaf,jika saya katakan itu adalah satu tuduhan kerana saya yakin,Azizi memahami konsep ukhwah Islamiah bahawa setiap Muslim itu adalah bersaudara.Saya juga yakin, dia akan membawa tampuk pemerintahan PCM sesi depan dengan mengaplikasikan konsep persaudaraan dalam Islam meliputi semua ahli PCM.tidak memilih bulu, bukan kepada puak tertentu,tetapi memandang Islam secara syumul & universal,untuk semua.

Segelintir dari kita masih belum memahami mengapa PCM tidak bekerjasama dengan puak-puak atau jemaah tertentu.Saya berpendapat, sudah sampai masanya mahasiswa/wi Mansurah ini untuk menilai kebenaran berdasarkan hujah-hujah yang hak berpaksikan redha Allah SWT.Di kesempatan ini, izinkan saya untuk berkongsi dengan sahabat-sahabat tentang konsep "ta'addud jemaah" (berbilang-bilang jemaah).Saya bukanlah orang yang arif tentang jemaah,tetapi hanya menyampaikan setakat yg termampu berdasarkan pembacaan&kajian saya untuk kebaikan bersama.Saya yakin, sahabat2 diluar sana lebih layak untuk memperkatakannya berbanding diri ini.Jika apa yang saya sampaikan bercanggah dengan Islam,Al-Quran& As-sunnah,saya bersedia untuk menerima teguran.

TA'ADDUD JEMAAH

Sesetengah menganggap berpersatuan atau berjemaah itu suatu benda biasa tanpa meneliti jemaah yang di-intima’ (bergabung diri) itu betul memenuhi tuntutan syara’ terutama berkaitan dengan masalah Ta’adud Jemaah.

Islam adalah agama yang berdiri di atas ribat ukhuwwah dan iman serta melarang keras berlaku perpecahan dan pergolakan. Tengok sajalah agenda harian lima kali sehari solat berjemaah. Disusuli pertemuan mingguan solat jumaat dan muktamar tahunan di Baitullah musim haji. Segala-galanya mengunjurkan kearah perpaduan dan kesatuan.

Tentang masalah yang dibincangkan ini Dr. Yusuf al Qardhawi pernah berkata dalam Min Fiqhid Daulah Fil Islam :

"Tiada halangan ta'adud jemaah yg beramal untuk Islam, selagi mana terdapat keuzuran untuk mewujudkan sebuah kesatuan disebabkan kelainan matlamat, manhaj, fahaman dan thiqah kepada setengah yg lain berdasarkan kepada ta'adud takhassus dan tanawwu’ dan bukan ta'adud tudhod dan tanaqud.Semuanya wajib berdiri dalam satu sof pada setiap perkara yg mengembalikan ketuanan Islam, aqidah Islamiah dan keizzahan umat Islam "

Realiti dicelah fatwa Dr. Yusuf Al-Qardhawi ini, dibolehkan untuk kita berbilang-bilang jemaah atau persatuan dengan syarat mesti berlaku ta’adud takhassus dan tanawu’(saling menyokong dan membantu) Seperti persatuan-persatuan PERUBATAN di setiap cawangan yang saling bekerjasama dengan PERUBATAN pusat di Kaherah,juga seperti BKAN dan DPM saling berkerjasama dengan PMRAM. Ada juga jemaah-jemaah yang mengesampingkan fatwa ulama mujtahid ini. Mereka mengutamakan matlamat dan halatuju mereka dengan mengambil pendekatan ta'adud tudhod dan tanaqud (berlawanan dan bertentangan). Inilah satu anasir yang melambatkan kefahaman ummat terhadap Islam. Buktinya mahasiswa Mesir berpecah kepada beberapa jemaah.

Tidak ada satu fatwa pun yang mengharuskan berlakunya ta'adud tudhod wa tanaqud. HARAM hukumnya berbilang-bilang jemaah jika disana saling bertentangan kerana ia akan melahirkan bibit-bibit perpecahan sesama muslim. Diperkuatkan dengan fatwa Syeikh Solah Shawi dalam Mada Syariyyatul Intima' :

" Sesungguhnya ta'adud yang diterima dilapangan amal Islami ialah taadud takhassus dan tanawwu’ bukannya ta'adud tudhod wa tanaqud. Adapun taadud yg memecahkan wala umat Islam,melaknati sesama manusia merupakan wabak dan kecelakaan yg mengubah waqi' kepada tersebar fitnah dan membuka jalan kepada pandangan untuk mula beruzlah

Dan satu lagi bicara kata yang perlu di ambil iktibar untuk semua, adalah dari kata2 Syeikh Mustafar Masyhur yang mana katanya di dalam Wahdatul Amal Fi Qatril Wahid :

" Adapun kewajipan dan pendirian kami tentang jemaah2(selain Ikhwan Muslimin) ialah apa yang diperluaskan oleh agama Islam daripada sifat kasih sayang, mawaddah, nasihat menasihati, bantu membantu diatas dasar kebajikan dan mengelak perselisihan dan pertelingkahan serta berusaha untuk bersatu

Namun begitu,kata amaran dari beberapa syeikh kita iaitu Mustafa Masyhur, solah Shawi, Yusuf Qaradhawi dan Said Hawwa yang bersependapat mengatakan bahawa:

tidak dibenarkan sama sekali taadud seandainya jemaah yg baru ditubuhkan tersebut tidak mengikuti ketetapan syara' dan timbul pecah belah serta dendam kesumat juga ditubuh atas dasar tidak puas hati antara satu sama lain.

Nah, kalian boleh menilai dan mentafsir sendiri, apa yang benar dan apa yang batil, sama2 muhasabah diri, perbaiki mana yang batil, teruskan mana yang haq.

KONKLUSI

Kesimpulan yang saya dapat berdasarkan hujah-hujah ta'addud jemaah ini ialah:

-setiap jemaah yang berada di bumi Mansurah ini perlulah bermuhasabah dan sama-sama membantu PCM untuk kepentingan ummah dan menyebarkan Islam secara syumul kepada semua ahli.

-tidak dapat dinafikan, PCM adalah persatuan yang pembawakannya selari dengan Al-Quran & As-sunnah,ijma'&qias ulama'.Oleh itu,tidak ada apa-apa perubahan yang perlu kita lakukan, tetapi hanya perlu mengislah dan memperbaiki KUALITI yang sedia ada.

-para pimpinan PCM bukanlah orang-orang yang gilakan kuasa dan inginkan pemerintahan dari puak-puak tertentu,tetapi sayangkan Islam,sayangkan PCM & inginkan Islam yang sebenar dapat tersebar kepada seluruh ahli.

-Pilihlah pemimpin yang layak untuk memerintah,dan tentunya yang punya ilmu & pengalaman yang luas dalam mentadbir.

Jadi,

VOTE FOR AZIZI!! >>Kualiti,Kebajikan&Kebebasan<<
PCM for All.

Wallahu'alam.

Monday, November 22, 2010

sayangi PCM (edited)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah pentadbir sekalian alam.selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW.

hari pengundian semakin hampir.bahang pilihanraya semakin terasa kehangatannya.dalam keghairahan berkempen, saya rasa terpanggil untuk melontarkan buah fikiran dalam menyelesaikan kebuntuan ini.saya menulis artikel ini bukanlah bertujuan untuk melebihkan atau menjatuhkan mana-mana pihak. tetapi adalah atas penilaian saya selama berada dalam tampuk pemerintahan PCM sejak 2007.

kebanyakan ahli mungkin tidak memahami selok-belok pentadbiran PCM.kebanyakan mereka tidak tahu sejauh mana bebanan tugas yg dipikul oleh orang2 yang bekerja dalam persatuan selama ini.mereka tidak mengharapkan apa-apa balasan,tidak minta dipuji dan tidak minta dipandang oleh mana-mana insan.

ISU KESATUAN

Alhamdulillah, bersyukur kerana kejadian yang berlaku kala ini membuka mata ramai pihak untuk memikirkan isu kesatuan.Saya yakin, mahasiswa/wi di Mansurah hari ini masih punya sensitiviti yang tinggi kearah penyatuan ummah.Ia adalah satu anjakan positif yang perlu didokongi oleh persatuan,tidak kira walau siapa sekalipun yang mentadbir dan memerintah.

sehingga ke hari ini, sudah 3 tahun PCM ditubuhkan.sepanjang pemerintahan tahun 2008, dimana tahun bermulanya lambakan pelajar di Mansurah,sebenarnya PCM sudah sedaya-upaya untuk membawa wadah kesatuan di antara semua pelajar tidak kira kos, latar belakang pendidikan,agensi, dll.sebenarnya, kesemua ideology yang dibawa oleh saudara Ashraf itu telah lama pihak pimpinan cuba untuk melaksanakannya. jika tidak percaya, silakan bertanya kepada semua pengerusi,timbalan pengerusi, penasihat,dll yang pernah berada dalam pimpinan PCM.

persoalannya,tahukah sahabat-sahabat sekalian mengapa PCM masih belum berjaya untuk menyatukan semua mereka berada dibawah satu lembayung pemerintahan PCM? hal kesatuan ini tidak akan dapat dilaksanakan sekiranya masing-masing lebih mementingkan periuk nasi sendiri/jemaah/persatuan yang dibawa tanpa meletakkan kepentingan ummah dan Islam melebihi segala-galanya.

cubalah sahabat-sahabat sekalian fikirkan,bukan sedikit usaha PCM untuk menyatukan semua pelajar.tahun lepas, isu kesatuan telah dijadikan usul yang diperbincangkan dalam MTC.gerak kerja menjalankan usul tersebut juga telah dirancang&dilaksanakan sebahagiannya.sejak menjadi exco penerbitan dan penerangan,pihak pimpinan pernah mengadakan beberapa perjumpaan bersama orang-orang tertinggi agensi-agensi GMN,Medic Mesir,serta jemaah-jemaah seperti ISMA,Konsis,dll.semuanya kerana kami inginkan KESATUAN.namun, sekali lagi ingin saya persoalkan, mengapa kita masih belum mampu untuk bersatu?

Hakikatnya, isu kesatuan ini adalah isu yang perlu diambil berat oleh setiap individu.bukan semata-mata pengerusi dan barisan exconya.jika sekiranya tidak mendapat komitmen daripada semua pihak, masakan kesatuan itu bisa direalisasikan.

JANGAN BIARKAN ANGIN PERUBAHAN YANG BERTIUP MENGABURI PENDIRIAN KITA DALAM MENILAI

sahabat-sahabat.. jangan terkejut sekiranya saya mengandaikan saudara Ashraf juga tidak akan mampu untuk membawa semua yg berada di Mansurah ini untuk bersatu bersama-sama PCM.ingatlah! bahawa PERUBATAN dan PCM adalah persatuan yang didasari dengan Al-Quran, As-Sunnah,ijma' & qias.Sekiranya anda menolak apa yang dibawa oleh sumber-sumber tersebut, selagi itu PCM tidak akan berkompromi dengan anda.

saya bawakan satu situasi:
masalah musyrif--> dalam PCM ada pelajar yang tidak mahu menggunakan khidmat musyrif.sedangkan, Mesir berada dalam undang-undang darurat & banyak kes-kes yang berlaku melibatkan keselamatan pelajar Malaysia.dalam istilah feqahnya, penggunaan musyrif ini disebut sebagai 'sadduz-zarai' (mencegah sesuatu dengan menutup jalan-jalan yang membawa kepadanya).
bagaimana anda ingin menyatukan pelajar-pelajar yang menolak untuk menggunakan musyrif?sedangkan penggunaan musyrif itu adalah etika dalam unit JAKSI.

masalah musyrif saya bawakan sebagai salah satu contoh dari banyak lagi masalah lain yang perlu difikirkan diperingkat pimpinan.

MENGENDALIKAN SEBUAH PERSATUAN PERLUKAN ILMU&PENGALAMAN

sahabat-sahabat, saya menyeru kepada semua untuk memikirkan dengan selumat-lumatnya dalam memilih pimpinan.ingatlah! anda sedang mempertaruhkan sebuah persatuan, yang akan membawa impak yang besar kepada lebih daripada 1200 orang ahli.Untuk menjadi nakhoda yang mengemudi sebuah kapal yang mempunyai ahli yang ramai, perlu bermula dari peringkat bawahan.Kepimpinan memerlukan didikan,latihan dan skill dalam memimpin.Hal ini bagi memastikan ketahanan yang cukup utuh dari segala aspek mental, fizikal, rohani, jasmani,dll.Menjadi pengerusi bukanlah semata-mata mempengerusikan mesyuarat atau berada bersama-sama dengan orang atasan, malah lebih dari itu.ilmu, pengalaman dalam mentadbir,mahir dengan selok-belok& dasar persatuan, sangat-sangat diperlukan.

jadi sahabat-sahabat, fikir-fikirkanlah sedalam-dalamnya dalam membuat keputusan.realiti pemerintahan PCM tidak semudah mengeluarkan ideologi & buah fikiran.fahamilah pimpinan PCM mengapa kami melakukan begitu & begini.bukan semata-mata mengkritik tanpa membantu untuk memperbaiki persatuan.

" sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat" (Al-Hujurat:10)

wallahu'alam.