Tuesday, April 6, 2010

kembali kpd Tuhan

Dengan Nama Allah Yg Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).

Setiap hari yang kita lalui,terlalu banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan..adakalanya kita sedar..adakalanya kita tidak menyedari.. ada yang melakukan dosa kerana jahil dan ada pula kerana kelemahan diri sendiri..di sinilah letaknya hakikat seorang yg bergelar hamba dan manusia..selalu melakukan dosa dan kesalahan.kadang kala kita begitu mudah melakukan dosa,agar kita menyedari bahawa kita hanyalah hambaNya yang hina.bukan malaikat, dan bukan pula Rasul..

"Setiap anak Adam itu berdosa.dan sebaik-baik yg berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat.."(HR Ahmad)

Namun begitu, manusia yg sering melakukan dosa ini perlu tahu bahawa dia memiliki Tuhan yg bersifat Al-Ghafur,At-Tawwab..Yang Maha Penerima Taubat,Maha Pengampun.Semoga Allah SWT mengampunkan apa jua dosa dan kesalahan kita, dan membimbing kita agar selamat dunia dan akhirat.segeralah kembali kpd Allah SWT, memohon maghfirah, dan keampunanNya.Semoga kita dapat kembali kepadaNya,menyucikan diri dan jiwa dari noda dan dosa..


Keutamaan Taubat dan Orang-orang yang Bertaubat dalam al Qur'an

Tentang dorongan dan anjuran untuk bertobat, Al Qur'an berbicara:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).

Maka derajat apa yang lebih tinggi dari pada mendapatkan kasih sayang Rabb semesta alam.

Dalam menceritakan tentang ibadurrahman yang Allah SWT berikan kemuliaan dengan menisbahkan mereka kepada-Nya, serta menjanjikan bagi mereka surga, di dalamnya mereka mendapatkan ucapan selamat dan mereka kekal di sana, serta mendapatkan tempat yang baik. Firman Allah SWT:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)dosa(nya)." (QS. Al Furqaan: 68-70.).

Keutamaan apalagi yang lebih besar dari pada orang yang bertaubat itu mendapatkan ampunan dari Allah SWT , hingga keburukan mereka digantikan dengan kebaikan?

Dan dalam penjelasan tentang keluasan ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertaubat. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini membukakan pintu dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan. Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda Rasulullah Saw:

"Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami' Shagir - 5235)

Di antara keutamaan orang-orang yang bertaubat adalah: Allah SWT menugaskan para malaikat muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdo'a kepada Allah SWT agar Allah SWT menyelamatkan mereka dari azab neraka. Serta memasukkan mereka ke dalam surga. Dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan mereka di langit. Allah SWT berfirman:

"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak -bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari(pembalasan?)kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar." (QS.Ghaafir: 7-9).

Terdapat banyak ayat dalam Al Qur'an yang mengabarkan akan diterimanya taubat orang-orang yang melakukan taubat jika taubat mereka tulus, dengan banyak redaksi. Dengan berdalil pada kemurahan karunia Allah SWT, ampunan dan rahmat-Nya, yang tidak merasa sempit dengan perbuatan orang yang melakukan maksiat, meskipun kemaksiatan mereka telah demikian besar.

Seperti dalam firman Allah SWT:

"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? ." (QS. At-Taubah: 104)

"Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa: 25)

Dan dalam menyipati Dzat Allah SWT: "Yang mengampuni dosa dan menerima taubat." (QS. Ghaafir: 3)

Terutama orang yang bertaubat dan melakukan perbaikan. Atau dengan kata lain, orang yang bertaubat dan melakukan amal yang saleh. Seperti dalam firman Allah SWT dalam masalah pria dan wanita yang mencuri:

"Maka barangsiapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maaidah: 39)

"Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam: 54)

"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 119)

Puja-puji terhadap Allah SWT dengan nama-Nya "at-Tawwab" (Maha Penerima Taubat) terdapat dalam al Quran sebanyak sebelas tempat. Seperti dalam do'a Ibrahim dan Isma'il a.s.:

"Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 128).

Juga seperti dalan sabda Nabi Musa kepada Bani Israil setelah mereka menyembah anak sapi:

"Maka bertaubatlah kepada Tuhan Yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu, pada sisi Tuhan Yang menjadikan kamu, maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang ." (QS. Al Baqarah: 54)

Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya:

"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 64)


Sumber: tuntutan bertaubat kepada Allah SWT (Dr Yusuf Al-Qaradhawi)

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Taubat/Utama.html

Monday, February 8, 2010

Dialog Rasulullah SAW dgn iblis laknatullah

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.


Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”
Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”
Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”
Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis:

“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:

“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:

“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”


Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?
Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.
Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”
Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”


sumber: http://14n.org/dialog-iblis-vs-rasulullah-saw/

p/s: sumber asal hadith ini tidak diketahui.sejauh mana kebenarannya,Allahu'alam.mudah2n pesanan yg baik itu berguna dan dijadikan panduan dalam menjalani hidup sementara menanti hari perhitungan.

Wallahu'alam.

Thursday, November 26, 2009

mengenal erti pengorbanan

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang


Alhamdulillah, setinggi-tinggi kesyukuran dipanjatkan kehadrat Allah SWT atas nikmat dan limpahan rahmat yang tidak terhingga kepada hambaNya.setelah lama menyepi, kini diberi kekuatan dan kesempatan untuk mencoret sesuatu untuk tatapan bersama.semoga mendapat manfaat bersama, insyaAllah.

Salam Aidil Adha diucapkan kepada semua pembaca.sempena ketibaan hari raya korban ini, sama-samalah kita mengambil pengajaran dan teladan daripada peristiwa korban yang cukup besar yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya,Nabi Ismail AS.semoga kita dapat memahami apa yang dikatakan sebagai pengorbanan sebenar di samping memantapkan iman dan taqwa dengan menghayati sirah nubuwwah ini.

Firman Allah SWT:

102. Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya,(Ibrahim) berkata,"Wahai anakku!Sesungguhnya aku bermimpi bahawa aku menyembelihmu.Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu!"Dia (Ismail) menjawab;"Wahai ayahku! lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah perintahkan kepadamu;insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (Surah As-Soffat:102)


demikianlah bermulanya peristiwa bersejarah yang membawa erti yang sangat besar kepada kita, umat Islam.bagaimana tingginya pengorbanan seorang anak yang sanggup menyerahkan dirinya hanya semata-mata melaksanakan perintah Allah SWT.begitu juga dengan seorang ayah yang rela mengorbankan anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Allah SWT.demikianlah bukti ketinggian iman pada diri Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail AS.(ketika perintah ini datang, menurut pendapat Nabi Ismail berumur 7 tahun.menurut pendapat yang lain, 13 tahun).

Namun begitu, perintah yang didatangkan melalui mimpi Nabi Ibrahim AS adalah satu ujian dari Allah SWT.Ketika Nabi Ibrahim AS meletakkan pisau besarnya ke leher Nabi Ismail, dengan kuasa Allah pisau itu tidak melukakan Nabi Ismail sedikitpun.Lalu Nabi Ismail AS ditukarkan dengan seekor domba (yang besar) dari syurga,iaitu domba yang sama dengan domba yang dijadikan korban oleh Habil.Domba itu dibawa oleh oleh malaikat Jibril,lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya sambil membaca takbir. (tafsir jalalain)

103.Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya,(untuk melaksanakan perintah Allah).

104. Lalu Kami panggil dia,"Wahai Ibrahim!

105.Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu."Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

108. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang2 yang datang kemudian,

109."Selamat sejahtera bagi Ibrahim."

110.Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang2 yang berbuat baik.

111.Sungguh,dia termasuk hamba2 Kami yang beriman.

(Surah As-Soffat:103-111)

semoga peristiwa korban ini menjadi pengajaran berguna buat diri kita selaku hambaNya. justeru,sama-samalah kita muhasabah sejauh manakah pengorbanan kita untuk agama Allah?sanggupkah kita korbankan masa,jiwa, harta,dll semata-mata kerana Allah SWT. manusia sanggup menghabiskan jutaan ringgit untuk keselesaan dan kesenangan hidup di dunia.sedangkan itu hanyalah nikmat sementara. semoga kita dapat beramal dan istiqamah dengan pengorbanan yang hanya sebentar di dunia ini.sungguh, ganjaran yang sangat besar menanti hamba2Nya yang bersabar dan mengorbankan dirinya untuk redha Allah SWT.

wallahu'alam.

rujukan: Tafsir Jalalain (terjemahan Indonesia)

Wednesday, September 9, 2009

Al-Quran & Sebuah Kehidupan

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang


Alhamdulillah,syukur kita kehadrat Allah SWT kerana dengan limpah dan kurniaNya kita masih lagi diberi kesempatan berada dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini.Bulan yang mana Al-Quran diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia.Semoga kita semua terus diberi kekuatan, taufiq dan hidayah dariNya untuk sentiasa istqamah dalam beramal dan semoga amalan yang kita lakukan disepanjang bulan yang mulia ini mendapat ganjaran dan diterima di sisi Allah SWT.

Firman Allah SWT:

“Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.. (Al-Baqarah : 185)


Bulan Ramadhan sangat sinonim dengan bulan diturunkan Al-Quran.Ramai di antara kita yang berlumba-lumba untuk mengkhatamkan Al-Quran dalam bulan yang mulia ini.Namun begitu, berapa ramaikah di antara kita yang mengambil manfaat daripada setiap ayat Al-Quran yang dibaca?


Firman Allah SWT:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan(Al-Quran) untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Surah Al-Qamar:22)


“ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”(Surah Muhammad : 24)

Al-Quran juga digelar sebagai Al-Furqan, Az-Zikr, Al-Kitab yang merupakan petunjuk, pemberi peringatan kepada pembacanya, pembawa berita gembira buat orang-orang yang beriman,berita sengsara bagi orang-orang yang ingkar, mengkhabarkan tentang perkara-perkara ghaib, cerita para nabi sebelum Baginda Rasulullah SAW,membezakan antara yang hak dan batil, sumber utama rujukan dalam mengeluarkan hukum-hakam dan sebagainya.Justeru, Al-Quran yang merupakan Kalam Allah SWT, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW perlulah kita hadam sebaiknya agar dapat memberi manfaat kepada hidup kita di dunia dan di akhirat.Al-Quran yang dibaca tanpa memahami maksud dan tafsirannya serupalah sepertimana kita membaca peta tetapi tidak memahami isi kandungan peta tersebut.Lantas, jalan manakah yang perlu ditempuhi?Malanglah apabila peta sudah ada di tangan, tetapi kita tetap dalam kesesatan kerana keengganan untuk mempelajari dan memahami peta tersebut.


Bagaimanakah sikap para sahabat ketika mendengar Al-Quran dibacakan?Ketika penurunan Al-Quran di zaman Rasulullah SAW, para sahabat baginda ada yang terus menghafaz ayat-ayat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ada pula yang mencatatkannya dilembaran-lembaran pelepah tamar, kulit kayu, kulit binatang, dan sebagainya. Pada zaman tersebut juga, apabila Al-Quran dibacakan kepada para sahabat, mereka akan terus menghafaz dan mengamalkan setiap ayat yang diturunkan kepada mereka.Mereka sangat menitikberatkan untuk mengamalkan Kalamullah hatta tidak akan menghafaz ayat yang berikutnya, selagi mana belum mengamalkan ayat yang dihafaz sebelum itu.Begitulah hebatnya iman para sahabat Nabi SAW.Mereka dengar, dan mereka taat.Lantaran itu,lahirlah generasi-generasi Al-Quran yang unggul.Hidup mereka lahir daripada acuan Al-Quran,serta mendapat tarbiyah secara langsung daripada Rasulullah SAW.Justeru, tidak mustahillah Rasulullah SAW menyifatkan bahawa zaman sahabat merupakan sebaik-baik kurun.


Di dalam sebuah buku karangan Dr Safwat M. Halilovic berjudul “Hifz: Memorization of the Quran” menceritakan bahawa,sesiapa yang mempelajari perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW akan mendapati bahawa kehidupan baginda penuh dengan hubungan yang rapat dengan Al-Quran.Baginda sentiasa bersama dengan Al-Quran di dalam semua keadaan.Baginda akan membaca Al-Quran siang dan malam,ketika di rumah, mahupun diperjalanan.Tambahan lagi, kehidupan Baginda menggambarkan seorang model Al-Quran yang praktikal dari segala aspek kehidupan.Hal ini seperti mana yang telah dikhabarkan oleh Saidatina ‘Aisyah RA yang mengatakan bahawa akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Quran.


Oleh itu para sahabat sekalian,bersempena dengan bulan yang padanya Al-Quran diturunkan, marilah kita bersama-sama membudayakan Al-Quran dalam kehidupan seharian kita.Dampingilah Al-Quran, kerana dialah penawar dan pengubat segala duka dan keresahan, menjadi penghubung kepada hamba dengan Tuhan.Jiwailah Al-Quran, jadikanlah Al-Quran sebagai teman setia,kerana Al-Quran adalah sebaik-baik kalam, menjadi pengubat dan penawar penyakit yang berada di dalam jiwa.Bacalah Al-Quran dengan hati yang khusyuk, menangis mengharapkan keredhaan Tuhan.


“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (Surah Al-Isra’ :82)


Ya Allah,kurniakanlah kami kekuatan, taufiq dan hidayah agar sentiasa istiqamah untuk membaca,memahami, mentadabbur,menghayati,menghafaz, dan mengamalkan Al-Quran hingga ke akhir hayat.Ameen.

Wallahu’alam

Monday, September 7, 2009

Nuzul Al-Quran

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Berikut serba sedikit perkongsian makluat tentang peristiwa Penurunan Al-Quran.Semoga mendapat manfaat bersama..

Terdapat dua pendapat mengikut ahli sejarah, termasuk pendapat para ahli hadis, tentang Al-Quran yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw.

Pendapat pertama menyatakan bahawa Al-Quran diturunkan pada malam Isnin tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah (6 Ogos 610 M). Pendapat kedua pula menyatakan bahawa Al-Quran telah diturunkan pada malam Isnin, tanggal 24 Ramadhan (13 Ogos 610 M). Pendapat yang pertama adalah berdasarkan ayat 41 dari Surah Al-Anfaal, manakala pendapat kedua dasarnya adalah ayat 1 Surah Al-Qadr dan ayat 1-4 Surah Ad-Dukhan.

Walaupun tradisi Nuzul Al-Quran telah lazim diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, namun sesungguhnya pendapat kedua adalah lebih kuat dan lebih mungkin benarnya. Ini adalah kerana malam Lailatul Qadar yang dipercayai sebagai malam turunnya Al-Quran bukanlah terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.

Adapun dalam firman Allah SWT pada ayat 41 surah Al-Anfaal, yaitu: "…jika kamu beriman kepada Allah dan apa-apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad saw) pada hari Furqan,iaitu di hari bertemunya dua pasukan (diperang Badar, antara muslimin dan kafirin)…" (TTQ 8 : 41) Ayat tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan Nuzul Al-Quran.

Tetapi sebenarnya ayat tersebut merupakan penjelasan tentang hukum pembahagian harta rampasan perang (seperti yang terdapat pada awal ayat tersebut). " Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, RasulNya, kerabat-kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil (orang yang sedang dalam perjalanan)…" (TTQ 8 : 41).

Dan apabila diteliti dengan lebih lanjut, yakni dengan menghubungkan hadis-hadis tentang turunnya Al-Quran, iaitu pada Lailatul-Qadar dan kelahiran Rasullullah pada hari Isnin serta pada catatan-catatan waktu di dalam takwim, maka akan diperolehi kesimpulan yang lebih tepat, iaitu Al-Quran diturunkan pada hari Isnin, malam 21 bulan Ramadhan, 13 tahun sebelum Rasullulah saw berhijrah ke Madinah.

Menurut para mufassirin, Al-Quran yang diturunkan pada malam "Lailatul Qadar" sebagaimana disebut di atas adalah Al-Quran yang turun sekaligus di "Baitul Izzah" di langit dunia. Sedangkan Al-Quran yang diturunkan ke bumi dan diterima Rasullullah sebagai wahyu terjadi secara beransur-ansur selama sekitar 23 tahun.

Adapun ayat-ayat yang pertama diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw adalah ayat 1-5 surah Al-'Alaq.

Dan peristiwa ini terjadi ketika nabi saw sedang bertahannus (menyendiri) di Gua Hira. Sedangkan ayat Al-Quran yang terakhir sekali diturunkan adalah ayat-ayat riba iaitu ayat 278 sehingga 281 dari surah Al-Baqarah.


Sumber: www.al-azim.com

Friday, September 4, 2009

Akhlak yang baik



Firman Allah SWT:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam:4)

…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang… (Ali Imran:134)


619.Daripada Anas RA berkata:sesungguhnya Rasululah SAW adalah orang yang paling baik akhlaknya. (muttafaqun ‘alaih)


620. Daripada Anas RA berkata: aku tak pernah sentuh kain sutera dan pakaian sutera lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah SAW, dan aku tidak menghidu bauan yang lebih wangi daripada bau Rasulullah SAW.aku berkhidmat kepada Rasulullah SAW selama 10 tahun, Nabi tak pernah berkata : “Ah”, dan tak pernah berkata pada perkara yang aku buat: “kenapa kamu buat begini?”, dan pd perkara yang aku tak buat: kenapa kamu tak buat begini? (muttafaqun ‘alaih)


621. Daripada As-So’b b. Jassamah RA berkata:Aku telah menghadiahkan Rasulullah SAW kuda belang, tetapi Nabi tolak.Apabila Nabi melihat wajahku berubah,Baginda bersabda: “Aku bukanlah menolak pemberianmu kepadaku melainkan kerana aku dalam keadaan berihram”. (Muttafaqun ‘alaih)


622. Daripada An-Nawas b. Sam’an RA berkata: Aku bertanya Rasulullah SAW tentang kebaikan dan dosa, maka Nabi bersabda: “Kebaikan itu ialah akhlak yang baik, dan dosa ialah ape yang kamu rasa ragu2 dalam dirimu dan kamu benci jika manusia lain tengok”. (Riwayat Muslim)


623. Daripada Abdullah b. Amru b. Al-‘Asr RA berkata: Bukanlah Rasulullah SAW orang yang buruk akhlak dan bukan orang yang suka bercakap perkara tk elok.Dan Nabi bersabda: “sesungguhnya yang terbaik dikalangan kamu ialah yang paling baik akhlaknya.” (muttafaqun ‘alaih)


624. Daripada Abi Darda’ RA : Nabi SAW bersabda: “ Tiada sesuatu perkara yang lebih berat pada timbangan seorang hamba yang beriman pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.Sesungguhnya Allah SWT benci orang yang berperangai keji yang memaki(cakap tak elok)” (Riwayat Tirmizi)


625. Daripada Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW telah ditanya tentang sebab2 utama yang memasukkan manusia ke dalam syurga.Nabi bersabda: “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang baik”. Dan ditanya tentang sebab2 utama yang memasukkan manusia ke dalam neraka, maka Nabi bersabda : “Mulut dan faraj”. (Riwayat Tirmizi)


626. Daripada Abu Hurairah RA berkata: Nabi SAW bersabda: “Paling sempurna orang2 Mu’min imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan paling baik dikalangan kamu adalah yang paling baik terhadap isterinya.” (Riwayat Tirmizi)


627. Daripada Aisyah RA berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang Mu’min akan mencapai dengan sebab akhlaknya yang baik darjat orang2 yang sentiasa berpuasa dan qiamullail” (Riwayat Abu Daud)


Diriwayatkan oleh Tirmizi, daripada Abdullah bin Mubarak rahimahullah dalam mentafsirkan akhlak yang baik, dia berkata: akhlak yang baik ialah muka yang ceria, berbuat kebajikan, dan tidak menyakiti/menyusahkan orang lain.



Rujukan: Kitab Riadhus Salihin